Tampilkan postingan dengan label Pasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2015

TAGGED UNDER: ,

Pedagang Berharap Tetap Bisa Membuka Usahanya di Pasar Kanoman



CIREBON (CT) – Pedagang yang berjualan di Pasar Kanoman Cirebon mengaku resah dengan belum juga adanya perpanjangan kontrak yang dilakukan Keraton dengan Pemkot Cirebon. Mayoritas pedagang di Pasar Kanoman ini, umumnya menginnginkan agar kontrak pasar diperpanjang, sehingga mereka bisa melanjutkan aktifitas dalam usahanya.

Beberapa waktu sebelumnya, pedagang di Pasar Kanoman sudah menemui pihak PD Pasar, namun saat ini belum ada keputusan dari PD Pasar. Ketua Ikatan Pedagang Pasar Kanoman, Nuri Suyanto mengatakan pihaknya sudah mengirimkan pengajuan kepada PD Pasar, namun belum juga ada keputusan.

“Sudah bertemu perwakilan pedagang dengan PD Pasar, namun belum ada keputusan,” ujar Nuri kepada CT, Minggu (20/12).

Nuri menjelaskan, tanda tangan kontrak antara PD Pasar dengan pihak Keraton saat sebelumnya yakni pada tahun 1996 silam. Namun, dikatakan oleh Nuri yang saat itu menjadi ketua IPP, pedagang pasar Kanoman baru menempati pasar tersebut pada tahun 1998.

Saat meminta agar PD Pasar menyelesaikan masalah ini, Nuri menjelaskan saat itu PD Pasar mengarahkan pedagang untuk menemui pihak Keraton.

“Saat itu saya beserta perwakilan pedagang lainnya bertemu dengan pihak Keraton, meminta agar kontrak selesai pada tahun 2018. Kami sih sebenarnya tidak ada masalah dengan pemerintah tidak memperpanjang. Bagaimana baiknya saja, tapi kami juga berharap agar ada titik temu antara Pemkot dan pihak Keraton,” katanya. (Iskandar)

TAGGED UNDER: ,

Kepala Diskoperindag Indramayu: Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Kebutuhan Pokok Naik



INDRAMAYU (CT)- Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Indramayu mengaku, jelang natal dan tahun baru 2016 berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan di enam pasar tradisional di Kabupaten Indramayu

Kepala Diskoperindag Kabupaten Indramayu, Maman Kostaman didampingi Kasi Pasar, Joni, mengungkapkan kebutuhan pokok di enam pasar tradisional di Kabupaten Indramayu yakni pasar tradisional Indramayu, Jatibarang, Karangampel, Patrol, Haurgeulis dan Bangkir mengalami kenaikan.

“Misalnya saja harga beras dari harga Rp.10 ribu per kilogram menjadi Rp.10.500 per kilogram, gula pasir Rp.12 ribu per kilogram menjadi Rp. 12.250 per kilogram, minyak goreng Rp.13.100 per kilogram menjadi Rp.13.125 per kilogram dan tepung terigu Rp. 8.100 per kilogram menjadi Rp. 8.750 per kilogram,” paparnya, Minggu (20/12).

Dia menuturkan bahwa stock dipastikan aman, pasalnya momen natal dan tahun baru tidak seperti momen idul fitri.

“Perayaan natal tidak mayoritas jadi tidak menghambat, suplay-nya biasa tetapi mencukupi,” ujarnya.

Dia mengatakan kenaikan harga yang signifikan itu terjadi jika ada hambatan dalam perjalanan, “sekarang kan ada tol cipali jadi tidak ada hambatan. Untuk kenaikan harga tertinggi ada di Pasar Indramayu itu disebabkan karena faktor ekonomi masyarakat kota yang dianggap mampu,” terangnya.

Terpisah, salah seorang pedagang sayuran di pasar Indramayu, Anah mengatakan kenaikan harga pun terjadi pada berbagai komoditas sayuran di antaranya, bawang merah ukuran sedang dari Rp. 16 ribu per kilogram menjadi Rp. 25 ribu per kilogram, tomat dari Rp. 5 ribu per kilogram menjadi Rp. 8 ribu per kilogram dan daun bawang dari Rp. 10 ribu per kilogram menjadi Rp. 16 ribu per kilogram.

“Selain itu, cabe merah dari Rp. 18 ribu per kilogram menjadi Rp. 24 ribu per kilogram, cabe hijau dari Rp. 12 ribu per kilogram menjadi Rp. 16 ribu per kilogram, cabe rawit dari Rp.18 ribu per kilogram menjadi Rp. 24 ribu per kilogram. Ditambah lagi, kol dari Rp. 8 ribu per kilogram menjadi Rp. 10 ribu per kilogram, wortel dari Rp. 8 ribu per kilogram menjadi Rp. 13 ribu per kilogram, kentang dari Rp. 8 ribu per kilogram menjadi Rp. 9 ribu per kilogram,” paparnya.

Anah mengaku kenaikan harga ini sudah terjadi sejak seminggu yang lalu. Dia mengatakan berdasarkan informasi dari bandar sayuran, kenaikan harga tersebut terjadi akibat datangnya musim hujan. Pasalnya, hujan membuat sayuran cepat membusuk sehingga stock-nya menjadi berkurang.

Anah menambahkan, kenaikan harga sayuran juga dipicu jelang Natal dan Tahun Baru 2016. Pasalnya, permintaan sayuran dari konsumen meningkat. (Dwi Ayu)

TAGGED UNDER: ,

Proses Perpanjangan Kontrak Pasar Kanoman Mentok Soal Harga



CIREBON (CT) – Kesepakatan soal harga perpanjangan kontrak Pasar Kanoman, antara pemerintah kota Cirebon dengan pihak Keraton Kanoman, masih belum menemui titik temu. Menurut Ratu Raja Arimbi, mewakili Keraton Kanoman, bahwa harga yang diajukan yakni sebesar 1 miliar per tahun bukanlah nominal bisnis.

“Itu masih realistis karena kami juga masih memperhitungkan nasib para pedagang, nilai 1 miliar bukan nilai bisnis,” ujar Arimbi kepada CT, Minggu (20/12).

Selain menginginkan kontrak senilai Rp. 1 miliar per tahun, pihaknya juga meminta agar dibukanya akses jalan menuju Keraton, jika nanti kontrak tersebut diperpanjang.

“Kami juga meminta akses jalan masuk ke Keraton, karena Keraton merupakan Cagar Budaya,” katanya.

Ditambahkan oleh Arimbi, saat ini pihaknya menunggu undangan dari Pemkot Cirebon untuk bertemu dan membicarakan nilai perpanjangan kontrak Pasar Kanoman tersebut.

“Harusnya memang bertemu dan duduk bersama, tapi sampai saat ini belum ada,” tambahnya.

Sebelumnya, Pemkot Cirebon dikabarkan menawarkan perpanjangan pasar Kanoman tersebut hanya sebesar Rp. 2,5 miliar dengan kontrak 20 tahun. Namun, hal tersebut mendapat kritikan dari Komisi B DPRD Kota Cirebon.

Menurut anggota Komisi B DPRD Kota Cirebon, Imam Yahya mengatakan, dengan sewa Rp 2,5 miliar per tahun untuk masa sewa selama 20 tahun, sangat tidak masuk akal. Imam memperkirakan dengan retribusi Rp 4 ribu per hari dan dikalikan sekitar 1.500 pedagang, maka Pemkot bisa mengganti Rp 2,5 miliar tersebut dalam kurun waktu dua atau tiga tahun saja.

“Artinya, Pemkot menawar terlalu murah. Wajar saja kalau hingga saat ini pihak keraton masih bergeming. Kalau menawar ya realistis sedikit lah. Jangan maunya hanya untung saja, tapi pikirkan bagaimana pihak keraton yang menjadi pemilik lahan, juga bagaimana para pedagang ke depannya,” katanya. (M. Iskandar)

Sabtu, 19 Desember 2015

TAGGED UNDER: ,

Soal Perpanjangan Kontrak Pasar Kanoman, Komisi B DPRD Kota Cirebon: Pemkot Jangan Mau Untungnya Saja



CIREBON (CT) – DPRD Kota Cirebon meminta Pemkot Cirebon untuk menawar harga perpanjangan Pasar Kanoman dengan harga yang masuk akal. Hal itu disampaikan oleh Anggota Komisi B DPRD Kota Cirebon, Imam Yahya, Sabtu (19/12).

“Kita akan dorong terus Perusahaan Daerah Pasar untuk berbicara perpanjangan kontrak dengan Keraton Kanoman. Sekarang waktunya sudah sempit sekali karena hanya tinggal beberapa bulan lagi menuju berakhirnya kontrak,” paparnya.

Pemkot saat ini dikabarkan menawar Rp 2,5 miliar per tahun untuk masa sewa selama 20 tahun. Sementara pihak keraton menginginkan sewa kontrak Rp 15-20 miliar per tahun.

Padahal, Imam Yahya lanjut menjelaskan, dengan sewa Rp 2,5 miliar per tahun untuk masa sewa selama 20 tahun, dengan retribusi Rp 4 ribu per hari dan dikalikan sekitar 1.500 pedagang, maka Pemkot bisa mengganti Rp 2,5 miliar tersebut hanya dalam kurun waktu dua atau tiga tahun saja.

“Artinya, Pemkot menawar terlalu murah. Wajar saja kalau hingga saat ini pihak keraton masih bergeming. Kalau menawar ya realistis sedikit lah. Jangan maunya hanya untung saja, tapi pikirkan bagaimana pihak keraton yang menjadi pemilik lahan, juga bagaimana para pedagang ke depannya,” katanya.

Seharusnya, menurutnya, kalau secepatnya ingin menemui titik temu, maka harus ada komunikasi yang intens antara Pemkot dan Keraton Kanoman.

“Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Seharusnya, persoalan ini dibereskan dan perpanjangan kontrak dilakukan satu tahun sebelum masa kontrak habis. Ini sih kebalikannya, mau habis kontraknya justru Pemkot ketar-ketir berusaha memperpanjangnya. Kalau begini caranya, bisa-bisa seluruh pedagang resah,” katanya.

Imam menegaskan, jangan sampai keberadaan Pasar Kanoman nantinya hanya tinggal cerita semata.

“Ingat pasar ini merupakan pasar trasional yang sudah melegenda, jadi harus terus diperpanjang,” katanya.

Sementara itu, Walikota Nasrudin Azis mengatakan, program perpanjangan pasar sudah menjadi prioritas agendanya saat ini. Meski belum sempat bertemu dengan pihak keraton secara langsung, namun dirinya sudah menginstruksikan dengan PD Pasar terkait hal ini.

“Saya enggan bicara soal harga perpanjangan kontrak, yang pasti saya ingin tetap pasar ini diperpanjang,” katanya.

Menurutnya, tidak mungkin dirinya akan menghilangkan ikon pasar di Keraton Kanoman. Sebab, Keraton Kanoman saudah sangat identik dengan pasar.

“Ada berapa ribu warga yang menggantungkan hidupnya dari ini? Saya minta masyarakat khususnya para pedagang untuk bersabar saja dulu terkait perpanjangan kontrak pasar tersebut,” ujarnya. (M. Iskandar)

Jumat, 18 Desember 2015

TAGGED UNDER: ,

Nelayan tak Melaut, Harga Ikan Mengalami Kenaikan



CIREBON (CT) – Memasuki musim hujan dan membuat masyarakat nelayan kesulitan melaut, karena kondisi ombak yang besar. Hal itu hasil tangkapan ikan menurun hingga mengakibatkan harga ikan melonjak naik, sedikitnya pasokan ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Karangreja, Kecamatan Suranenggala, Jumat (18/12).

Menurut sejumlah nelayan di TPI Desa Karangreja, lonjakan harga ikan segar terjadi sejak tiga hari kemarim, dipicu stok ikan kosong karena beberapa nelayan memilih tidak melaut, karena gelombang ombak yang besar.

Harga-harga ikan yang naik di antaranya cumi-cumi Rp. 30.000 perkilogram, Ikan etong Rp. 20.000 perkilogram, bandeng besar Rp. 25.000 perkilogram, bandeng sedang Rp. 20.000 perkilogram, kakap Rp. 40.000, rajungan Rp. 60.000 perkilogram, udang sedang Rp. 70.000 perkilogram.

Menurut, Uci (38) pedagang ikan dengan nama kiosnya Bina usaha, dirinya sudah 15 tahun berjualain ikan, setiap tahunnya ketika memasuki musim hujan, serta hari raya harga ikan rutin naik. Pembelipun datang dari berbagai daerah, seperti Kuningan, Tegalgubuk, Gegesik dan daerah lainnya.

“Karena harga di sini relatif murah dan kebanyakan untuk didagangkan kembali. Memang sudah rutin, kalau musiman hujan harga ikan naik, para nelayan tidak kelaut karena musim hujan baratan dan gelombang pun besar. Kalau kelaut juga dapet ikannya sedikit serta kecil-kecil,” tukasnya. (Putri Murni)

© 2014 Media Cakrawala. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.
back to top